Laman

There was an error in this gadget

Monday, December 26, 2011

Filosofi Anus Naga

Tahun baru masih beberapa hari lagi, namun suasana persiapan dan kemeriahannya sudah terasa sejak minggu ke 2 bulan Desember ini. Di tepi jalan sudah mulai banyak billboard tentang acara-acara tahun baru mulai dari di Cafe-cafe sampai di hotel. Mulai dari acara Old & New biasa sampai acara pool party bertemakan "Surf into 2012", yang gak jelas... Begitu juga persiapan alat-alat pendukung kemeriahan acara tahun baru, yaitu Terompet Tahun Baru. Para pedagang terompet sudah mulai membuka lapaknya di tepian jalan protokol kota Semarang. Bahkan timeline Twitter tadi pagi memuat berita dari Kompas tentang banjir baru yang melanda kota Jakarta, yaitu banjir pedagang terompet. Terompet tahun baru saat ini memiliki bentuk yang bermacam-macam. Mulai dari yang berbentuk seperti terompet (ya iyalah...), vuvuzela, terompet berlekuk-lekuk, sampai terompet berbentuk gak jelas. Terompet tahun baru yang paling gak jelas yang pernah ku lihat, secara tidak sengaja ku temui minggu lalu. Malam itu aku & Irenne sedang berkendara di daerah Simpang Lima, secara tidak sengaja karena aku salah belok, jadi dengan terpaksa harus memutar lewat Simpang Lima. Di satu belokan, aku melihat sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan 1 anak laki-laki berumur 6-8 tahun sedang naik motor. Si anak duduk di tengah sambil meniup-niup terompet tahun baru. Bentuknya adalah bentuk naga. Jadi itu adalah terompet tahun baru berbentuk naga. Tampaknya tahun depan adalah Tahun Naga, maka yang banyak dijual tahun ini adalah terompet naga. Bentuknya seperti di bawah ini:

Gambar dari sini


 Yang saat itu menggelitikku adalah letak lubang tempat kita meniup terompet itu.. Di gambar ini lubangnya terletak di ujung ekor naga itu, tidak ada masalah... Tapi di terompet yang ditiup anak itu, lubangnya terletak di lekukan naga sebelum bagian ekor. Tempat yang akan membuat kita (paling gak aku & Irenne dan teman-teman yang ku ceritain ) langsung berasumsi bahwa itu adalah tempat anus naga itu...
Tidak kah itu cukup aneh bin ajaib?? Siapa sih yang mendesain terompet itu? Bisa-bisanya menempatkan lubang tiupan itu di situ??

Ketika hal ini ku ceritakan ke beberapa teman (ko Resha, Mona & Sonia), mereka juga menangkap keheranan yang sama. Dan ternyata bukan cuma anak itu yang jadi korban terompet anus naga itu, ada anak lain yang merupakan tetangga Mona, meniup terompet dengan model yang sama. Jadilah itu cerita terungkap dari ingatan dan menjadi bahan pembicaraan seru... Sampai akhirnya Irenne mengatakan bahwa pemikiran kritis tentang terompet anus naga ini hanya muncul pada pikiran para filsuf. Dan Sonia lah yang memberikan nama pada pemikiran ini yaitu Filosofi Anus Naga...

Pesan moral cerita ini: Pandanglah segala sesuatu dengan lebih kritis. Termasuk ketika akan membelikan terompet untuk anak atau adik anda. Bayangkan jika ada filsuf-filsuf atau kritisi-kritisi lain di luar sana yang melihat anak anda meniup terompet anus naga. Entah apa yang akan ada dalam benak mereka...


MERRY CHRISTMAS & HAPPY NEW YEAR ALL!!
GOD BLESS!!!


No comments:

Post a Comment